Rabu, 31 Maret 2010

Rumus Rubik Gan

kalo ngerti ya syukur klo ga ngerti ga usa dibaca.
hahahahahahahaha (nyampah)

1
RU2-R2'FRF'U2'-R'FRF' 2
F-RUR'U'-F'-Fw-RUR'U'-F'w 3
R'RwU-Rw'U2-RwU-R'UR2Rw' 4
R'U2x-R'URU'y-R'U'R'UR'F
5
Lw'U2'LUL'ULw 6
RwU2'R'U'RU'Rw' 7
RwU-R'URU2'Rw' 8
Lw'U'-LU'L'U2Lw
9
F'U'F-LF'L'-U-LFL' 10
FUF'-R'FR-U'-R'F'R 11
L'R2BR'BR-B2R'BR'L 12
F-RUR'U'-F'-y-F-RUR'U'-F'
13
LF'L'-U'-LFL'-F'UF 14
R'FR-U-R'F'R-FU'F' 15
L'B'L-R'U'RU-L'BL 16
RBR'-LUL'U'-RB'R'
17
RUR'U-R'FRF'U2-R'FRF' 18
RU2-R2'FRF'-U2'RwR'URU'Rw' 19
MU-RUR'U'Rw-R2'FRF' 20
MU-RUR'U'-Rw2R2'URU'Rw'
21
RU-R'URU'R'UR-U2R' 22
RU2'-R2'U'R2U'R2'-U2R 23
L2wU'R-D2-R'UR-D2R 24
RwUR'U'Rw'FRF'
25
Lw'U'L'U-RU'LUx' 26
L'U'LU'L'U2L 27
RUR'URU2R' 28
RwUR'U'R-Rw'URU'R'
29
B'R'B-L'-B'R2B'-R'B2L 30
BLB'-R-BL2B-LB2R' 31
L'D'w-RDw-LU'L'B'L 32
RDw-L'D'w-R'URBR'
33
RUR'U'-R'FRF' 34
RUR'U'(x)-D'-R'UR-E' 35
RU2-R2'FRF'-RU2R' 36
R'U'RU'R'URU-RB'R'B
37
B'RBR'-U'R'UR 38
LUL'ULU'L'U'-L'BLB' 39
LF'L'U'LUFU'L' 40
R'FRUR'U'F'UR
41
RU'R'U2RU(y)RU'R'U'F' 42
L'ULU2L'U'(y')L'ULUF 43
F'wL'U'LUFw 44
FwRUR'U'F'w
45
FRUR'U'F' 46
RU-RB'R'B-U'R' 47
F'-L'U'LUL'U'LU-F 48
F-RUR'U'RUR'U'-F'
49
LwU'Lw2'ULw2ULw'2U'Lw 50
Rw'URw2U'Rw2'U'R2wURw' 51
F-URU'R'URU'R'-F' 52
R'U'RU'R'-Dw-R'URB
53
Lw'U'- LU'L'ULU'L'U2-Lw 54
RwU-R'URU'R'URU2-Rw' 55
RU2'-R2'U'RU'R'U2'-FRF' 56
F-RUR'U'RF'-RwUR'U'Rw'
57
RUR'U'-Rw-R'URU'Rw' Searah Jarum Jam:
F=Front U=Upper
B=Back L=Left
R=Right (X)w=180° Berlawanan Jarum Jam:
F'=Front U'=Upper
B'=Back L'=Left
R'=Right (X)w=180°

©AzizYusron.com

MASAKAN BUAT ANAK KOST :)

hmmmmmmmmmm
buat anak kost ni yang irit medit dan pelit (lho?????)
hehehehehe
gw punya beberapa resep yang bisa lo coba
bahan bahan terjangkau, bikinnya juga ga terlalu sulit.
monggo di coba...... :)

Sop kentang:
Bahan: 1/4 kg kentang
2 sdm minyak goreng
2 butir telur
2 liter air
4 buah bawang merah
1 sdt irisan daun seledri
garam
penyedap rasa

Cara Membuat:
rebus kentang dengan 2 liter air
setelah lunak hancurkan sampai halus
rebus lagi dengan irisan bawang merah
Goreng telur
tuang ke rebusan kentang+garam+penyedap
Seledri terakhir


taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
this is it, sop kentang ala anak kos!!!!11

Terapi Jangka Panjang untuk ADHD

Pemberian terapi psikofarmakologi harus terus diberikan sepanjang gejala masih ada dan menyebabkan gangguan. Mengingat terapi digunakan dalam waktu yang cukup panjang, maka pasien dengan ADHD harus melakukan follow up yang teratur untuk evaluasi pengobatan. Evaluasi ini berguna untuk memastikan apakah obat yang diberikan masih efektif, menentukan dosis optimal, dan meyakinkan efek samping yang timbul tidak signifikan secara klinik.

Jika tak satupun dari terapi psikofarmakologi yang memberikan efek memuaskan pada pasien dengan ADHD, maka klinisi harus melakukan review diagnosis secara seksama. Setelah itu mempertimbangkan pemberian terapi perilaku di samping memberi terapi obat alternatif lain. Jika pasien ADHD memperlihatkan respon yang baik terhadap terapi psikofarmakologi dengan memperlihatkan fungsi normal pada akademik, keluarga, fungsi sosial, maka pemberian terapi psikofarmakologi tunggal saja sudah cukup.

Hal yang sangat perlu ditekankan dalam pemberian psikofarmakologi adalah monitoring efek samping. Pasalnya, sebagian besar terapi berlangsung untuk jangka waktu lama. Adapun efek samping yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan stimulan adalah penurunan nafsu makan, kehilangan berat badan, insomnia, sakit kepala sebagian besar, tics, dan terkadang kelabilan emosis. Sementara TCA biasanya bisa menimbulkan mulut kering, sedasi, konstipasi, pandangan blur atau kabur, dan takikardi (gejala antikolinergik). Sedangkan antagonis alfa bisa menyebabkan sedasi, pusing, hipotensi, penghentian mendadak bisa menimbulkan rebound hypertension yang berbahaya, depresi sekitar 5%, hiperglikemi, terjaga pada malam hari, mimpi buruk, dan teror di malam hari.


dikutip dari : http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=86

Terapi Kombinasi Terbaik untuk ADHD

Tatalaksana ADHD bisa ditempuh dengan tiga cara, yakni terapi psikofarmakologi, terapi perilaku, dan terapi kombinasi. Sebuah studi dengan Multimodal Treatment of ADHD (MTA) menemukan bahwa pengobatan yang paling efektif untuk ADHD adalah tipe kombinasi. Yakni dengan pemberian psikofarmakologi dibarengi dengan terapi perilaku.

Sebenarnya, untuk jangka waktu lama pada terapi psikofarmakologi telah berkembang suatu kontroversi besar. Yaitu penggunaan stimulan untuk mengatasi gejala inti ADHD. Beberapa pakar menentang penggunaan stimulan karena khawatir bisa menimbulkan efek ketagihan (abuse). Namun beberapa studi belakangan malah menunjukkan hal yang berbeda. Selain bisa mengatasi gejala inti ADHD dan menetralkan overaktivitas emosi, ternyata stimulan cukup aman digunakan jika tetap dimonitor. Akhirnya stimulan banyak diresepkan.

Saat ini tersedia beberapa jenis stimulan. Misalnya saja, methylphenidate (MPH) dengan lama kerja singkat, sedang, dan panjang serta dextroamphetamine dengan masa kerja panjang. Dua formulasi yang paling mutakhir adalah campuran garam amphetamine (75% dextroamphetamine dan 25% levoamphetamine). Pemoline, suatu stimulan dengan masa kerja panjang, sekarang sudah jarang digunakan karena efek hepatoksisitas fatal (meskipun jarang).

Pemberian stimulan berespon pada 50-75% kasus. Dan stimulan yang banyak diresepkan dan paling popular adalah MPH. MPH diberikan dalam tiga dosis: rendah 15mg/hari atau 0,3mg/kg/hari, sedang 16-34mg/hari atau 0,5mg/kg/hari, dan tinggi >34mg/hari atau 1mg/kg/hari. Dosis maksimum MPH adalah 60mg/hari. MPH tidak boleh digunakan untuk anak usia di bawah 6 tahun.

Studi terbaru menemukan bahwa ada obat lain yang bisa digunakan untuk ADHD di samping stimulan. Yakni antidepresan trisiklik (imipramin, desipramin), bupropion, dan agonis alfa adrenergik (klonidin). Imipramin diberikan dengan dosis 1mg/kg/hari (maksimum <>


dikutip dari : http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=86

ADHD Penyakit Genetik

Ada beberapa faktor yang dipertimbangkan bisa menyebabkan terjadinya ADHD. Di antaranya adalah defisit dari fungsi semisal respon inhibisi, kewaspadaan, dan kerja memori. Berdasarkan hasil studi Twins, diperkirakan 60-94% ADHD diperoleh dari keturunan. Hal ini dibuktikan melalui studi genome scan yang menemukan bahwa penanda (marker) pada kromosom 4,5,6,8,11,16,17 dan DRD4, merupakan kandidat gen untuk ADHD. Sementara faktor non genetik yang bisa menyebabkan ADHD adalah perinatal stres, BBLR, cedera otak, dan merokok selama hamil.

Untuk menegakkan diagnosa ADHD seorang klinisi harus mempelajari riwayat pasien, mencari informasi dari sekolah, melakukan wawancara diagnostik, dan membuat rating scales. Adapun kriteria diagnosa yang digunakan bervariasi. Belum ada standar atau kriteria yang sama untuk ADHD. Namun yang paling banyak digunakan adalah kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV). DSM-IV mendefinisikan 3 subtipe ADHD, yakni kombinasi, predominan inatensi, dan predominan hiperaktif/impulsif. Pengelompokkan ini didasarkan pada pola gejala yang muncul dalam 6 bulan sebelumnya.


dikutip dari : http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=86

Kontroversi Seputar Terapi ADHD

Sejak diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Heinrich Hoffman pada 1845, attention deficit hiperactivity disorder (ADHD) kerap mengundang kontroversi di kalangan medis. Dulu, ADHD belum diakui secara resmi sebagai suatu penyakit atau gangguan. Hingga menjelang 1902, Sir George F. Still mempublikasikan satu seri karya yang menjelaskan ADHD secara ilmiah. Dia menerbitkan panduan untuk mahasiswa kedokteran di Royal College of Physicians, Inggris yang menggambarkan suatu grup anak impulsif dengan gangguan prilaku yang bermakna. Menurutnya, ADHD disebabkan oleh disfungsi genetik dan bukan oleh keterbelakangan seorang anak. Sejak itu, banyak paper ilmiah yang dipublikasikan hingga akhirnya ADHD resmi dinyatakan sebagai suatu penyakit .

Kontroversi tak berhenti hanya sampai di situ. Perdebatan pun terus bergulir. Mulai dari kriteria diagnosis, aspek penilaian dan pemilihan serta efektivitas dari pengobatan ADHD. Terakhir juga berkembang kontroversi, apakah penggunaan obat perlu diteruskan hingga dewasa atau tidak?

Kondisi demikian membuat ADHD menjadi "primadona." Apalagi kasus ADHD cukup banyak dijumpai. Diperkirakan 2-3% anak di dunia mengalami ADHD. Di Amerika Serikat, ADHD menimpa sekitar 2 juta anak. Ini berarti dalam suatu kelas dengan 25-30 murid, setidaknya ditemukan seorang anak yang mengalami ADHD. Sementara di Jakarta, prevalensinya sekitar 26,2% (dengan kisaran usia 6-13 tahun). Biasanya, anak laki-laki lebih sering mengalami ADHD ketimbang anak perempuan (interval perbandingan 2,5:1 dan 5:1).

DR.Dr.Dwijo Saputro, SpKJ, pada pertemuan nasional Indonesian Society for Biological Psychiatry, Pharmacological, and Sleep Medicine yang berlangsung di Twin Plaza Hotel, Jakarta, 24-25 Januari 2006 lalu mengatakan, ada tiga karakter utama pasien ADHD. Yaitu inatensi, hiperaktivitas, dan impulsif. Tanda atau ciri tersebut akan mudah dikenali serta tampak nyata pada usia prasekolah dan awal sekolah (7 tahun).

Menurut pria yang aktif di klinik pengembangan anak dan kesulitan belajar Smart-Kid yang beralamat di arteri Pondok Indah ini, seorang anak dengan ADHD susah untuk mengontrolperilakunya atau berkonsentrasi dengan satu hal. ADHD bukanlah suatu gangguan belajar namun gangguan hambatan prilaku.


dikutip dari : http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=86

1 Dari 100 Anak Menderita Autis

Kenaikan jumlah angka penderita autis sungguh mencengangkan. Bagaimana tidak, rasio anak yang terkena autis semakin banyak dengan perbandingan 1 dari 100 anak terdiagnosa positif autis.

Berdasarkan laporan berita dari Institute Nasional Kesehatan Mental dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, didapatkan bahwa telah terjadi peningkatan yang cukup besar dalam jumlah anak yang didiagnosis mengalami autis.

Kini ditemukan rata-rata penderita autis adalah 1 dari 100 anak-anak, sedangkan perkiraan sebelumnya adalah 1 dari 150 anak-anak dan dulu orang beranggapan penderita autis adalah 1 dari 500 anak-anak.

Apa yang sebenarnya terjadi? Saat ini ada kesepakatan secara umum bahwa faktor genetik diperkirakan turut menyempurnakan risiko anak-anak autis, faktor lainnya adalah meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai penyakit ini sehingga meningkatkan pula diagnosis untuk gangguan spektrum autis (autism spectrum disorders). Tapi ada juga pemicu lain yang belum dapat diidentifikasi, seperti lingkungan, makanan atau faktor keturunan.

Faktor pemicu lainnya tersebut seperti dikutip dari Thedailygreen, Selasa (6/10/2009) adalah lingkungan yang sudah terpapar merkuri atau logam berat lainnya, air yang terkontaminasi, pestisida atau juga karena pengguaan antibiotik.

Segala macam limbah beracun yang ada di lingkungan diduga sebagai penyebab yang potensial. Dengan perkembangan penelitian termasuk penelitian yang menonjol mengenai kesehatan anak-anak, ada salah satu penyebab yang sudah tidak dipercaya lagi yaitu penggunaan pengawet vaksin thimerosal yang diduga menyebabkan anak autis. Kini pengawet tersebut sudah tidak digunakan dan tidak ada bukti yang menunjukkan thimerosal menyebabkan anak autis.

Autis merupakan gejala yang timbul karena adanya gangguan atau kelainan saraf pada otak seseorang. Anak yang menderita autis jika kepalanya diperiksa dengan menggunakan CT Scan semuanya akan terlihat normal-normal saja. Diduga autis terjadi karena jembatan yang menghubungkan antara otak kanan dan otak kiri bermasalah atau terhambat, dan sampai saat ini belum diketahui apa yang membuatnya terhambat.

Sampai saat ini belum ada satu penyebab yang pasti mengakibatkan anak autis. Tapi orangtua sebaiknya secara bijaksana mengurangi paparan bahan kimia beracun selama masa kehamilan dan masa perkembangan anak-anak.